Kenapa Aku Rebuild Portfolio Pakai Nuxt?
Selama bertahun-tahun, portfolio-ku ya... portfolio biasa. WordPress, tema premium, isi data, selesai. Fokus-ku selalu ke project client, bukan ke website sendiri.
Tapi ada satu masalah: susah flex ke client kalau kamu pakai alat yang sama dengan semua orang.
Titik balik
Suatu hari ada calon client yang nanya, "website kamu sendiri pakai apa?" — dan aku agak malu jawab WordPress + tema Envato. Bukan karena itu salah, tapi karena aku tahu aku bisa bikin sesuatu yang lebih sesuai sama skill yang aku jual.
Jadi aku mulai dari scratch.
Stack yang dipilih
Nuxt 3 — karena aku sudah nyaman sama Vue, dan Nuxt memberikan SSG out of the box yang bersih. Deploy ke shared hosting? npm run generate, upload folder .output/public/. Selesai.
@nuxt/content — konten berbasis Markdown. Nambah project baru tinggal buat file .md, tidak perlu database, tidak perlu panel admin.
Tanpa UI framework — semua CSS ditulis manual. Ini keputusan yang agak ekstrem, tapi hasilnya jauh lebih ringan dan sepenuhnya dalam kontrol.
Aesthetic: dark dev × Japanese minimalism
Aku tinggal di Bali, tapi visual referensi-ku banyak dari Jepang — tipografi ketat, banyak whitespace, warna yang tidak berteriak. Dikombinasikan sama feel terminal / developer yang aku suka, jadilah NAKARA Studio.
Warna aksen? oklch(0.58 0.22 25) — merah tua yang tidak terlalu merah. Hampir seperti darah kering. Terdengar dramatis, tapi di atas background gelap #0a0b0d dia perfect.
Hal yang paling aku suka
Page transition — dua panel merah tutup layar, nama NAKARA muncul sebentar, lalu terbuka lagi. Overkill? Mungkin. Tapi detail kecil seperti ini yang membedakan portofolio yang "jadi" dengan yang "selesai dibuat".
Pelajaran
Kalau kamu web developer dan portfolio-mu masih pakai template orang lain — itu valid, tapi ada value tersendiri kalau kamu bisa tunjukkan bahwa kamu bisa bangun sesuatu dari nol. Even kalau cuma satu halaman.
Ini versi pertama NAKARA Studio. Masih banyak yang mau aku tambahkan.